Mendekati Penentuan Presiden (Pemilihan presiden) 2019, suhu politik akan makin memanas bersamaan dengan ramainya info yang tersebar mengenai dua pasangan Calon Presiden (Calon presiden) serta Calon Wakil Presiden (Calon wakil presiden). Politisi PDI-P Budiman Sudjatmiko memandang, panasnya suhu politik mendekati 2019 dikit banyak di pengaruhi oleh cepatnya perubahan tehnologi serta menambahnya pemakai sosial media (sosmed).
Baca Juga : KA Bogowonto dan Harga Tiket KA Bogowonto
"Tekanannya makin tinggi sebab jumlahnya basis serta pemakainya makin banyak. Ekspresi orang mendekati 2019 makin banyak yang dikatakan dalam bermacam-macam," kata Budiman Sudjatmiko dalam diskusi Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) "Buzzer Politik di Alat Sosial, Efektifkah?", di Jakarta, Jumat (12/10).
Menurut dia, pemakaian sosmed sekarang ini bisa memudahkan penyampaian info apa pun yang terkait dengan hajat hidup banyak orang. Termasuk juga beberapa info sekitar Pemilu 2019.
Baca Juga : Jadwal KA Bogowonto dan KA Gajah Wong
"Akan tetapi, perubahan itu tidak dibarengi oleh perubahan penduduk yang mempunyai kemampuan untuk berfikir. Mesti disadari jika di bagian ini Indonesia masih tetap kurang," katanya.
Sampai kini, content yang disebarkan lewat sosmed umumnya ikut tidak mengulas mengenai intisari masalah bangsa. Akan tetapi lebih pada masalah kecil yang justru dapat berbuntut pada perpecahan penduduk.
Baca Juga : Harga Tiket KA Gajah Wong dengan Jadwal KA Gajah Wong
Orang politik Partai Demokrat Ferdinand Hutahean menuturkan, pekerjaan sama-sama mencela di sosial media lewat kemampuan buzzer telah di luar kepatutan. Tidaklah heran, berita-berita hoax atau berita bohong selalu isi ruang-ruang di sosmed. "Sosmed sejumlah besar di isi oleh akun-akun yang sembunyikan jati diri dianya, atau account anonim. Semestinya, sosial media mesti dipakai untuk merajut komunikasi dengan penduduk," kata Ferdinand.
No comments:
Post a Comment